Oyasumi Punpun: The Pain of Living
Good
Vibration!!!
Tak
terasa ini sudah minggu ketiga di bulan September, ya. Apa kabar? Biasanya,
sekolah dimulai pada bulan September, jadi ini bisa dibilang sebagai bulan
tersibuk di semester baru. Tapi, aku telah bertekad bulat untuk tetap rajin menulis
sesibuk apa pun itu, seperti yang pernah kakak kelasku di universitas katakan:
tetap menulis!
Oke,
lanjut saja.
Karena
minggu kemarin aku sudah membahas tema realita, yang cukup membuat kita
bergidik membayangkan masa depan, kini saatnya kita melepas penat dengan
membaca komik dengan santai.
Tapi
ternyata, komik yang akan kita ulik kali ini ternyata tidak ada
santai-santainya, bro!
Sedikit
bercerita, aku “berjodoh” dengan komik ini ketika membaca review orang
tentangnya di Quora (again, aku mengetahui buku The Alchemist juga dari
Quora hahah). Waktu itu aku sangat ingat kalau aku membacanya saat tengah
malam, karena aku punya kebiasaan membaca apa pun sebelum tidur.
Kalau
kamu ingin tahu seperti apa review-nya hingga membuatku tertarik dengan
komik ini, berikut tautannya.
Intinya,
aku sungguh tertarik dengan komik ini. Tapi, waktu aku cek di Google keesokan
harinya, ternyata komiknya punya lebih dari 100 chapter! Beuh, malas
banget rasanya membaca komik sebanyak itu >< mending aku pakai buat baca
novel saja, karena bisa dibilang aku jarang membaca novel akhir-akhir ini.
Tapi,
emang dasarnya aku tukang kepo, jadi waktu sedang menganggur dan bingung mau
isi waktu dengan apa, aku iseng membaca chapter-chapter awal. Untuk chapter
1-20 bisa dibilang masih aman, meski aku sering mengernyitkan dahi di beberapa
adegan tertentu karena udah gas aja ngebahas topik yang agak sensitif :”
Oke,
kayaknya semuanya sudah tahu komik yang aku maksud, haha, jadi mari kita
berkenalan dengan komik Oyasumi Punpun atau Goodnight Punpun karya Asano Inio!
Kesan
pertamaku sendiri saat membaca komik ini adalah: aneh dan dark.
Dan, kata “punpun” sendiri sebenarnya telah merangkum keseluruhan isi cerita
komiknya, in case you would like to know. Kata “punpun” (プンプン) adalah salah satu
kata onomatope atau kata tiruan bunyi bahasa Jepang untuk menggambarkan
orang yang sedang bersungut-sungut atau sedang marah besar. Jadi, bisa kita
simpulkan bahwa Oyasumi Punpun menceritakan tentang kemarahan dan frustrasi
tokoh utama kita, Punpun Onodera, terhadap lingkungan sekitarnya, yang bisa
dikatakan toxic sekali :”
Proses
ceritanya terbilang lengkap karena menceritakan Punpun di kala masih kelas 6 SD
dan sedang tergila-gila dengan Aiko Tanaka, gadis pindahan dari prefektur sebelah.
Lalu beranjak ke masa SMP, SMA, hingga kisaran usia 22 tahun. Selayaknya
kehidupan pada umumnya yang pasti penuh dengan masalah, kehidupan Punpun tak
jauh dari itu, tapi dengan porsi yang lebih memilukan dan bikin sport jantung
saking parahnya.
Secara
keseluruhan, ini komik bener-bener paket komplit dari segala macam keruwetan
hidup. Ada masalah KDRT, eksistensi Tuhan, seks, pelecehan, depresi,
anti-sosial, pembunuhan, dan sebagainya. Aku ulangi, ini bener-bener parah
banget. Aku ngebayangin kalau itu sangat nggak adil untuk Punpun karena ia
menanggung semua-muanya. Tapi, bagian paling mengerikannya itu, banyak orang
di luar sana yang memiliki masalah yang sama dan memilih untuk menyembunyikannya
seperti Punpun, dan mirisnya kita tidak bisa berbuat apa-apa karenanya.
Asano
emang bener-bener berani banget mengangkat semua topik sensitif tersebut ke
dalam sebuah komik ber-genre slice of life gelap. Dia juga tak
repot-repot untuk melakukan sensor terhadap bagian-bagian yang tidak
mengenakkan untuk dilihat, jadi sekadar peringatan untuk kamu yang tertarik
untuk membacanya, karena asli, ini komik nggak ada sensornya sama sekali dan
vulgar banget, tapi kamu nggak akan bilang kalau itu komik hentai :v percaya
deh sama aku.
Kemudian,
dengan berat hati aku akui bahwa alur cerita dalam komik ini bisa dibilang
terfokus pada kisah asmara antara cinta monyetnya Punpun, Aiko Tanaka, dan friend
with benefit-nya yang bernama Sachi Nanjou—tapi dengan gaya yang berbeda.
Aiko
Tanaka, cinta monyetnya Punpun jaman SD.
Sachi
Nanjou, si judes yang ambisius.
Di
masa umur 20 tahunan, Punpun mengalami krisis identitas. Dia juga menganggur
dan baru saja keluar dari pekerjaannya karena alasan yang nggak jelas, dan
memilih untuk hikikomori atau mengurung diri di kosannya. Terlebih lagi,
hasrat Punpun yang pengin ketemu sama Aiko setelah mereka lost contact sejak
lulus SMP jadi bikin Punpun depresi dan ada suicidal thought.
Di
suatu bar, Punpun nggak sengaja ketemu sama Sachi Nanjou, seorang teman dari
kakak mantannya jaman SMA. Intinya, Sachi tertarik sama kepribadian Punpun yang
serba tertutup dan mengajaknya ikut serta buat collab bikin komik.
Kelamaan
hangout sama Sachi jadi bikin Punpun lupa sama Aiko dan segala negative
thinking-nya tentang hidup. Ini dikarenakan Sachi yang sifatnya sangat
positif dan percaya akan masa depan yang lebih baik kalau dia berusaha keras.
Sachi-lah yang menarik Punpun dari jurang kesedihan semasa remaja, dan sedikit
demi sedikit, Punpun bisa sedikit menikmati hidup bareng Sachi.
Apakah
Sachi sama Punpun pacaran? Bahkan kalau kamu nanya ini ke mereka langsung pun
mereka nggak tahu :’v Mereka ini sebenarnya bingung makna dari hubungan mereka.
Meski pernah sekali berhubungan seks, tapi nyatanya Punpun masih kepikiran Aiko
dan Sachi-pun nggak mau memaksanya, meski dia suka sama Punpun, bahkan Sachi
sempat menawarkan Punpun untuk membantu mencari Aiko.
Tapi,
Punpun akhirnya diizinkan semesta untuk bertemu Aiko secara kebetulan.
Awal-awal ketemu, mereka bersikap agak canggung dan saling berbohong soal hidup
mereka. Namun, makin ke sini, terungkaplah bahwa selama ini hidup Aiko jauh
dari kata “tentram”. Aiko kemudian merengek Punpun untuk ikut melarikan diri
bersamanya ke prefektur Kagoshima, seperti janji masa kecil mereka. Punpun
setuju, dan akhirnya mereka kawin lari eh kabur dari kenyataan menuju tanah
impian mereka sedari kecil: Kagoshima.
Sekadar
info, ending-nya sungguh kampret. Benar-benar plot
twist sekali.
Yap,
kurang lebih begitu alur cerita dari Punpun. Selain kisah hidup Punpun, ada
cerita dari tokoh sampingan lainnya yang turut diceritakan, seperti kisah
cintanya Paman Punpun, kehidupan teman-teman Punpun semasa SD, hingga sekte
sesat yang mengaku sebagai Tuhan. Aku sendiri tidak terlalu paham mengenai
cerita sampingan yang sekte sesat itu XD Gak peduli, lebih kepo sama Punpun x
Aiko soalnya.
BTW,
kenapa tokoh utamanya digambarkan kayak burung tanpa sayap gitu?
Justru
inilah membuat kita semakin tertarik untuk membacanya. Penggambaran main
character yang nyeleneh dan tidak umum.
Waktu
aku nyari tau ini setelah menamatkan komiknya, Asano bilang bahwa dia ingin
nge-prank calon pembaca komiknya (bar-bar emang -_-) dengan menyuguhkan
wujud visual aneh Punpun, nama sang tokoh utama.
Dan
memang inilah trik dari Asano. Biasanya kalo main character di
komik-komik itu digambarkan cantik dan ganteng, kan? Atau paling tidak, punya
keterampilan yang cuma dia sendiri yang punya. Daripada pusing memikirkan
gimana penggambaran muka main character, dia lebih memilih untuk
menyerahkannya pada pembaca :v dan fokus ke alur cerita.
Anyway,
nggak hanya Punpun saja yang digambarkan “sederhana”, melainkan seluruh
keluarganya juga:
Uniknya,
wujud Punpun tidak selalu digambarkan seperti itu hingga ending cerita.
Dan, dari yang kutangkap saat membaca komiknya, wujud Punpun yang berubah-ubah
adalah visualisasi dari perasaan hatinya yang sedang agresif, horny,
depresi, atau halusinasi.
Ada di beberapa chapter, Punpun terlihat seperti ini:
Atau
berbentuk “manusia” dengan kepala hitam menjulang lengkap dengan empat mata:
Dan, wujud yang akan menggetarkan kita semua:
Satu-satunya
wujud Punpun yang memperlihatkan wajahnya hanya ada satu chapter ketika
ia sedang digambar oleh teman-tapi-mesranya, Sachi, itu pun tidak keliatan
matanya -_- :
Tapi,
untunglah ada penggemar-penggemar yang kepo luar biasa dengan muka tokoh utama
kita ini, sehingga mereka menambahkan sepasang mata pada ilustrasi Punpun, yang
nampak mirip seperti aslinya:
Yap,
itulah yang bisa aku katakan mengenai komik ini. Kalau kamu pengin baca tapi
nggak tahu mau baca di mana, kamu bisa membacanya di sini. Atau, kalau malas baca online, kamu bisa hubungin aku lewat e-mail atau kontak pribadi aku untuk meminta pdf-nya, karena aku lupa download di mana waktu itu :( .
Karena
komik ini versi bahasa Inggris, dan penggunaan bahasanya yang sering
menggunakan majas dan kata kiasan, ada kemungkinan kalau kamu tidak terlalu
paham maksudnya. Untuk itu, kamu bisa membaca skripsi ini yang subjek
penelitiannya adalah Punpun.
Oh
iya, mau nambahin juga. Fanbase komik ini asli keren-keren banget,
mereka ada yang sampai membuat video ending dari Oyasumi Punpun apabila
komik ini di-anime-kan:
Dan setelah menamatkan komik ini, sempatkan diri untuk menonton video ini.
Akhir
kata, mari kita tutup postingan ini dengan kata-kata mutiara dari Paman Yuuichi
Onodera:









Komentar
Posting Komentar