DAY 3: A Memory

Makin hari kok topiknya makin bikin deg aja ya? LOL

Oke. Sebuah kenangan. Kenangan mana yang akan kutulis?

Daripada mikir keras buat nulis kenangan mana yang akan ditulis, mending nulis tentang kenangan yang terjadi baru beberapa bulan lalu hahah. Kamu pasti langsung bisa menebaknya. Yap, aku bakal nulis tentang beberapa ujian masuk universitas yang aku ikutin.

Bakal banyak nih kayaknya heheh :D

Dari kelas 11, aku sudah mikir keras mau lanjut ke mana setelah SMA, yang akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada prodi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya. Tapi sayang, ortu bener-bener nggak ngizinin aku buat ambil Pendidikan Sejarah, alasan mereka: siapa yang butuh guru sejarah? Setelah melalui diskusi panas, aku menjatuhkan pilihan bulat ke prodi Pendidikan Matematika UIN Sunan Ampel Surabaya (yang mana sebenarnya aku nggak terlalu suka Matematika, ini semua demi orangtua :> )

Naik ke kelas 12, aku berusaha buat mahamin materi saintek yang susah banget bagi aku, aku sendiri ngerasa salah jurusan di SMA. Hasil tes IQ waktu awal-awal kelas 10 menunjukkan kalau aku ditempatkan di IPA, sedangkan minatku cenderung ke IPS. Tapi, lagi-lagi karena orangtua, aku tegar masuk ke IPA, dan bisa dibilang aku kurang sekali di Fisika, Kimia, dan Matematika.

Aku agak goyah dalam memilih universitas tujuan di kelas 12. Aku menempatkan kembali Universitas Negeri Surabaya sebagai pilihan pertama di SNMPTN dengan pilihan kedua UIN Sunan Ampel Surabaya, masing-masing universitas mengambil prodi yang sama, Pendidikan Matematika. Btw, aku ikut SPAN-PTKIN juga, aku menempatkan UIN Sunan Gunung Djati Bandung di pilihan pertama dan kedua (ceritanya dulu janjian daftar SPAN-PTKIN di Bandung sama sahabat online hehe), dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di pilihan ketiga.

Waktu pengumuman, bisa ditebak sekali, aku tidak menyangka kalau aku tidak diterima di SNMPTN (minimal diterima di UIN Sunan Ampel kek), mengingat nilai rata-rataku cukup bagus. SPAN-PTKIN juga sama, aku dinyatakan tidak lolos, mungkin karena orangtua tidak merestui.

Aku sedih banget dan nangis kejer karena nggak lolos, orangtua sangat kecewa, bahkan ayah sampai mendiamkanku selama 3 hari. Aku sempat hangout sama temen yang sama-sama nggak lolos SNMPTN juga (padahal dia ranking 2 seangkatan) dan kami saling memberi semangat dan info mengenai ujian. Dan teman-teman, aku resmi menjadi pejuang SBMPTN 2020 dengan berbagai ombak rintangan terus menerjang kami angkatan 2020 yang malang, karena virus korona yang menghadang. Kami seringkali di-php dengan LTMPT yang mempermainkan jadwal UTBK yang nggak konsisten. Benar-benar beban pikiran deh. Tapi, ujian akhirnya resmi diadakan di bulan Juli dengan dua gelombang. Aku di gelombang pertama yang pada akhirnya ditaruh di gelombang dua.

Ini aku waktu berangkat tes UTBK ke ITS, bener-bener memorable <3

Oh iya, aku nggak hanya mengikuti tes SBMPTN saja, tapi aku juga ikut dua tes masuk lainnya, UMPTKIN (UMPTKIN ini asli nggak niat banget ikut, cuma cadangan doang :,> ) dan SIMAK UI (ikut cuma gara-gara kalo daftar pake KIPK itu gratis + pengen tau soalnya). Untungnya, aku bisa langsung fokus belajar untuk UMPTKIN dan SIMAK UI setelah aku mengikuti SBMPTN. Asli, dulu aku lebih fokus belajar SIMAK UI ketimbang UMPTKIN >< , aku cuma ngerjain soal-soal tahun kemaren untuk UMPTKIN, tapi untungnya masih selinier materinya (aku ngambil soshum untuk SIMAK UI dan UMPTKIN ini, alhamdulillah ortu merestui).


Potret ke-ambis-anku dulu hehe

Yang lebih enak lagi, tes UMPTKIN dan SIMAK UI tuh online saudara-saudara! Dan jadwal tesnya selisih dua hari doang, yang didahului oleh SIMAK UI. Yang bener-bener di luar dugaan, aku NGGAK BISA ikutan tes SIMAK gara-gara kendala sinyal! Mungkin Tuhan nggak merestui karena takut ntar aku bakal sombong kalau ikutan SIMAK (daftar SIMAK aja udah bikin aku besar kepala yaampun, dibuktikan dengan kagumnya mas-mas tukang fotokopi waktu aku nge-print kartu ujian :< ). Sempet nangis sih, tapi aku berusaha tegar :') dan fokus belajar UMPTKIN (padahal cuma ngerjain ala kadarnya). Dan alhamdulillah-nya, tes UMPTKIN-ku berjalan lancar banget, malah soal-soalnya cenderung agak gampang karena aku tiap hari ngerjain soal SIMAK yang kadar soalnya sudah tentu jauh lebih tinggi daripada UMPTKIN.

Nggak kerasa akhirnya tinggal nunggu pengumuman hasil tes SBMPTN sama UMPTKIN. Waktu pengumuman SBMPTN tiba, aku bener-bener berharap lolos. Aku ingat waktu itu jam 3 sore pengumumannya, aku pake sholat dulu lamaa banget (ada setengah jam). Abis itu, aku buka lamannya dan masukin nomor peserta dan tanggal lahir, dan inilah hasilnya:

AHAHAHAHAH AKU NGGAK LOLOSS LAGIII!!!

Aku syok, jatuh terduduk, trus nangis sesenggukan. Orangtua marah besar, terutama ayah. Maafkan aku, ayah, aku belum bisa membahagiakanmu, padahal aku anak pertama. Rasa bersalah bener-bener memenuhi dada kala itu. Bener-bener ngerasa kalau aku ini cuma beban keluarga. Orang tolol, nggak berguna, kata-kata itu bergema di pikiran.

Alhamdulillah, aku nggak sendirian. Walau mungkin orangtua membenciku waktu itu, aku punya teman-teman yang amat baik yang mau membantuku melewati masa-masa gelap itu. Aku teleponan dengan mereka, menumpahkan semua kekecewaan dan perasaan sia-sia dalam berusaha. Seorang teman lainnya membagikan daftar ritual ibadahnya kepadaku untuk starterpack menunggu pengumuman terakhir: UMPTKIN.

Ironis! Aku yang dulu begitu meremehkan UMPTKIN, tak pernah menyangka akan bergantung padanya pula.

Kebetulan cuma selisih seminggu antara pengumuman SBMPTN dengan UMPTKIN. Aku mengisi waktu luangku dengan overthinking, negative thinking, rencana gapyear kalau nggak lolos (jujur aku udah di tahap pasrah waktu itu), menonton film, dan melakukan semua ibadah yang di-sharing sama temen.

Dan akhirnya, hari itu.

Pengumuman UMPTKIN.

Coba tebak: hijau atau merah?


AKHIRNYAA DAPET CENDOL IJOO!! PILIHAN PERTAMA LAGI!!

Yaampun, aku nangis bahagia dan langsung sujud syukur. Ibu bahagia sekali. Akhirnya aku bisa membahagiakan orangtuaku, setelah melalui serangkaian harapan palsu. Terima kasih, Tuhan, rencana-Mu memang benar-benar unpredictable! Tapi setidaknya, aku diberi kesempatan untuk berkuliah tahun ini.

Sayounara, kampus kuning, kampus biru. Aku sudah merelakan kalian :') [masih proses T-T]

Kampus ijo, here I go!


PESAN MORAL:

-Jangan pernah melewatkan apapun kesempatan yang datang, dan jangan pernah meremehkan apapun, karena kamu nggak tahu apa yang akan terjadi meski satu detik kemudian.

P.S.:

Selain ketiga ujian di atas, aku juga ikut dua tes masuk universitas lainnya. Yang pertama STMIK Global di Tangerang. Aku ikut ini karena dipaksa diajak teman ikutan. Aku lolos tes tulisnya, tapi gagal di tes wawancara karena aku nggak bisa mengajak orangtuaku (ortuku bener-bener nggak merestui ini wkwk). Yang kedua itu BRI Institute. Ikutan ini juga dipaksa diajak temen HAHAH. Aku nggak niat banget ikutan ini, jadi berkas-berkasnya aku isi apa adanya. Karena itu, aku nggak lolos deh. Aku ingat pas buka pengumuman kelolosannya di e-mail dulu itu, aku ketawa keras banget XD

Yang terakhir, yang memorable sekali.

Kalau kamu yang ngikutin vlog Jerome Polin (nggak juga deng, ini lumayan terkenal di kalangan pemburu beasiswa soalnya), kamu pasti tahu ini:

Yap, Mitsui-Bussan Scholarship Program, salah satu beasiswa yang diberikan salah satu perusahaan besar di Jepang. Aku dengar kalau Jerome Polin tuh dapet beasiswa dari Mitsui-Bussan juga.

Aku sempet ikutan ini, dan bahkan harus mandek di awal-awal karena ada nilai raport-ku yang berangka 7 waktu kelas 10.

LAUGHING MY ASS OFF!!!

Anjirr, jadiin pelajaran buat kalian semua yang pengin daftar beasiswa ke Jepang, jangan sampai nilai raport SMA kalian ada yang 7. Ini penting sekali. Setauku juga, Mitsui-Bussan nggak ngewajibin pelamarnya untuk punya sertifikat TOEFL/JLPT. Jadi kalian masih ada harapan.


Sampai jumpa di challenge berikutnya!

Komentar

Postingan Populer