Menengok Tindak Rasisme Masyarakat Alabama dalam Buku To Kill a Mockingbird



 Hai! Aku kembali menulis lagi di blog pribadiku, setelah sekian lama hiatus untuk mengurus kehidupan. Kali ini aku akan menyajikan postingan tentang resensi buku favoritku sepanjang masa: To Kill a Mockingbird! 

Memandang jauh ke depan tentang apa yang akan kutulis, aku sadar kalau tulisan ini adalah campuran antara opini dan resensi. Aku juga akan memasukkan postingan ini ke dalam menu “Minoritas dalam Batas”, sebuah menu tersendiri yang khusus membahas kelompok-kelompok minoritas yang ada di dunia.

Sebelum memulai membahas buku ini, aku ingin bilang kalau aku tidak bermaksud untuk mengungkit-ungkit luka lama yang pernah berdarah di Amerika Serikat di masa lalu. Aku hanya murni meresensi dan memberikan pendapatku mengenainya. So, here we go! 

Jadi, seperti apa sih, buku To Kill a Mockingbird ini? To Kill a Mockingbird ini bercerita tentang Atticus Finch, seorang pengacara yang membela seorang berkulit hitam yang tertuduh memerkosa seorang berkulit putih. Di zaman itu, masyarakat berkulit hitam yang merupakan kelompok minoritas di tengah-tengah masyarakat Alabama di waktu itu. Pada zaman itu, Amerika Serikat tahun 1930-an, masyarakat berkulit hitam dianggap sebagai kaum kelas kedua.

Penampakan buku “To Kill a Mockingbird”, karya besar Harper Lee

Dalam buku ini dikisahkan sebuah fenomena sosial masyarakat Alabama yang dilihat melalui kacamata seorang anak perempuan umur enam tahun, Scout Finch. Menariknya, kita diajak memahami segala peristiwa yang terjadi di Alabama melalui sudut pandang anak kecil! Dan, sejauh yang aku pahami ketika selesai menamatkan buku ini, untuk anak seusianya, Scout cukup cerdas dalam memahami segala hal.

Semakin membaca, Harper Lee, sang penulis buku, mengarahkan kita ke permasalahan sosial yang berkecamuk di Alabama, atau bahkan Amerika, saat itu: diskriminasi terhadap kaum berkulit hitam. Ini ditunjukkan saat Atticus Finch yang berprofesi sebagai pengacara, yang juga merupakan ayah dari Scout dan Jem Finch (Jem adalah kakak laki-laki Scout yang berusia sepuluh tahun), membela seorang berkulit hitam yang tertuduh memerkosa seorang perempuan berkulit putih.

Tindakan terang-terangan yang dilakukan Atticus Finch tersebar cepat seperti api yang diberi bensin. Reaksi masyarakat Alabama saat itu sungguh menakutkan: mereka mencemooh dan mengasingkan keluarga Finch karena dianggap telah membela seseorang yang dianggap sampah masyarakat. Scout dan Jem dijauhi oleh teman-teman sekolahnya seakan mereka punya penyakit menular. Ketika Scout dengan polos bertanya kepada ayahnya mengapa ia membela seorang negro, respons Atticus sederhana saja: keadilan. Atticus menjelaskan dengan penuh kelembutan pada Scout kalau kasus yang ia tangani satu ini telah mempengaruhinya secara pribadi.[1]

Atticus memeluk Scout dengan penuh kasih sayang dalam adaptasi film

Dari buku ini, kita seakan-akan dapat melihat kebijaksanaan Atticus dalam semua hal yang dilakukannya: mendidik anak-anaknya, saat bekerja, atau bahkan caranya bersikap ke orang-orang yang telah memusuhinya. Atticus adalah figur seorang ayah dan orangtua tunggal terbaik yang membuat semua orang terpana.

Ketika aku menamatkan buku ini, aku begitu takjub. Aku yang berasal dari abad ke-21 ini, merasa telah disihir masuk ke dalam lingkungan Alabama tahun 1930-an. Deskripsi Harper Lee begitu jelas dan terperinci, mulai dari makanan-makanan yang biasa disajikan ketika pukul empat sore, hingga tempat-tempat dan peristiwa yang terjadi dalam buku.

Maka, tidak heran apabila buku ini diadaptasi menjadi sebuah film hitam-putih yang dirilis pada tahun 1962. Dan tentu saja, film ini meledak di dunia dan telah memborong piala Academy Award di masa-masa kesuksesannya.

Poster film To Kill a Mockingbird

Jadi, mengapa kamu tidak segera pergi membaca dan menonton To Kill a Mockingbird? Malas menonton karena film hitam-putih? Well, film hitam-putih selalu punya pesonanya sendiri, bung! Aku berani jamin kalau buku dan filmnya memang sebagus itu! Bacalah, dan kamu akan temukan kepolosan Scout, protektifnya Jem pada adik kesayangannya, kelucuan Dill, dan kebijaksanaan Atticus. Alabama tahun 1930-an sedang menunggumu!



[1] Harper Lee. 1960. To Kill a Mockingbird. Femmy Syahrani, penerjemah. Bandung (ID): Qanita. Terjemahan dari: To Kill a Mockingbird.

Komentar

Postingan Populer