Mengembara Bersama Santiago: Resensi Buku The Alchemist (Bagian 1)


 

Pertama-tama, apakah kamu pernah tahu/melihat/mendengar tentang buku ini?

Aku baru benar-benar tahu tentang buku ini saat aku membaca sebuah artikel jawaban di Quora, suatu platform tanya-jawab untuk berbagi pengetahuan.

Saat aku membaca artikel di Quora ini, aku seketika ingat kalau salah satu temanku pernah menanyakan apakah aku sudah membaca buku itu. Aku bilang saja kalau aku kayak pernah tahu judulnya, tapi aku nggak ingat persis, sih.

Aku kemudian langsung mencari The Alchemist di folder sekumpulan e-book yang pernah aku download di suatu website. Dan, boom! Ternyata aku memilikinya. Pantas saja aku kayak familiar dengan buku itu.

Aku membacanya, dan sejujurnya, aku belum selesai baca buku itu sih, hehe, kurang 20 halaman lagi. Aku tunda dulu buat baca komik dalam rangka membantu seorang kakak tingkat universitas untuk menyelesaikan tugas akhir kuliah atau skripsinya. Semoga dilancarkan, mas, skripsinya, maafin kalo agak lemot bacanya, hehe :D

Walau jumlah halamannya nggak sampe 200 halaman, aku baca buku itu agak lama, beneran. Aku bener-bener merasa kayak takjub saja sama alur ceritanya. Alur ceritanya tuh mengambil bentuk dongeng, dengan segudang nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Pola pikir dan cara pandangku dalam memandang dunia dan impian-impian seketika berubah 360 derajat ketika membaca buku ini.

Eh, aku belum cerita sinopsisnya ya? Maaf kelupaan :D

 

Gambar diambil dari Google.
Penampakan kover depan buku The Alchemist edisi perayaan 25 tahun.

Oke, here we go!

Seorang bocah gembala Andalusia (Andalusia sekarang menjadi wilayah Spanyol. Untuk Angela, waktu aku baca The Alchemist dan mengetahui kalo itu mengambil latar tempat di Andalusia, aku langsung teringat kalo kamu pernah cerita soal sejarah Andalusia yang pernah kamu pelajari di SMA) bernama Santiago sering bermimpi kalo dia punya harta karun di suatu tempat yang ada piramidanya (pikiran liarku berkata, apakah buku ini bakal berakhir dengan Santiago jadi perampok kuburan raja-raja Mesir Kuno di piramida?!). Dia bermimpi hal yang sama sampe tiga kali! Amazing! Dengan berbekal petunjuk dari mimpi, Santiago memberanikan diri buat pergi ke benua seberang yang sama sekali asing untuknya (Afrika) untuk mengejar hartanya.

Gambar diambil di Google, ini gereja tua tempat Santiago bermimpi hal yang sama untuk ketiga kalinya, yang mana merupakan jadi awal cerita dari buku ini.

Semakin dalam kamu membaca ini, semakin banyak pesan-pesan soal kehidupan yang kamu tangkap di setiap lembar buku The Alchemist. Aku serius! Belum pernah aku ngerasa merinding saat membaca buku, kecuali waktu baca The Alchemist. Pesan-pesannya itu diselipkan di setiap perjalanan Santiago menuju harta karunnya (atau kita bisa menyebut impian).

Di buku ini juga dipaparkan tentang dua kata yang paling sakral: “Legenda Pribadi”. Kita bisa tahu bahwa Legenda Pribadi milik Santiago adalah harta karunnya di piramida. Akan tetapi, apakah Santiago langsung percaya begitu saja? Nggaklah! Santiago juga sempet ragu! Bahkan banyak banget hambatan dan rintangan dari diri Santiago sendiri, selain dari lingkungan sekitarnya.

Bagaimana cara mengetahui kalau itu memang benar Legenda Pribadi? Sang bocah gembala kita ini bertanya-tanya.

Mudah, kok!

Kamu tinggal mendengarkan kata hatimu dan mengamati pertanda yang diberikan Tuhan di sepanjang jalan menuju harta karunmu, kata sang Alkemis, seseorang yang ditemui Santiago waktu dia di tengah-tengah gurun Sahara.

Gampang banget, kan? kan? kan? kan?????

Gampang banget, apanya! Hati nggak semudah itu memberikan petunjuk agung soal Legenda Pribadi. Dia trauma, bestie, dia paham betul orang jadi takut kalo dia memberitahu soal Legenda Pribadi. Dia takut kalo orang itu menyerah dalam upaya pengejaran harta karun, jadi dia memilih untuk membuat ragu orang-orang yang bertanya soal Legenda Pribadi. Begitulah cara kerja hati, ahahah.

Jadi, kesimpulannya adalah, teruslah mendesak si hati yang lembut tapi penakut ini untuk mengungkapkan rahasia Legenda Pribadimu, bestie. Cuma kamu lho, yang bisa mendesaknya. Heh, kok tahu??

Karena aku telah melakukannya :D Aku baru saja menemukan Legenda Pribadi milikku, mengejutkan memang, aku bahkan nggak pernah kepikiran sama sekali, tapi hatiku berkata begitu.

K-kok bisa???

Sigh~ kan aku udah bilang, pepet teross adalah koentji. Usahakan buat membuka semua pikiranmu, tenangkan dulu, baru kamu bisa berkomunikasi dengan hati kecilmu, seperti yang aku dan Santiago lakukan.

Oh iya, hampir lupa \(>.<)/. Buku ini nggak melulu bercerita soal mengejar mimpi, tapi juga diselipkan pencarian belahan jiwa (tersipu aku bacanya). Dikisahkan waktu singgah di oasis di tengah gurun Sahara untuk beristirahat, Santiago berjumpa dengan Fatima. Fatima juga jadi salah satu pemberat Santiago buat mencari harta karunnya loh, dia takut kalo dia nggak bisa ketemu sama Fatima lagi (namanya udah cinta ya, jadi nggak rela buat ditinggalin hwehe :3 ).

 

Gambar diambil dari Google. Meet Fatima, si gadis gurun, pacarnya Santiago :3

The Alchemist ini ternyata best seller sedunia loh, guys! Seterkenal itu rupanya. Maklum banget, soalnya buku ini bagus banget! Harus kamu baca sebelum kamu meninggal! Aku serius! Info terbarunya buku ini bakal diadaptasi ke layar lebar, tapi belum ada konfirmasi lebih lanjut, sih.

Sang penulis, Paulo Coelho, ternyata orang Brazil ketika aku membaca biografinya. Benar-benar fakta yang mengagetkanku, karena pendeskripsiannya soal lingkungan Andalusia dan Sahara benar-benar terasa sangat nyata, bahkan aku hampir bisa merasakan butiran pasir Sahara di kakiku! (Erm, mungkin aku yang terlalu ekspresif dalam mendalami buku :3)

Tapi ternyata, Coelho pernah tinggal di Spanyol cukup lama, jadi aku bisa menyimpulkan kalau dia memang tahu suasana pedesaan Spanyol. Dan soal Mesir, mungkin dia juga pernah berkunjung ke situ (walau ini nggak disebutkan di biografi) mengingat Spanyol dan Mesir itu nggak terlalu jauh letaknya, hanya berbeda benua dan dipisahkan oleh laut Mediterania.

Btw, perjalanan Santiago ke piramida itu merefleksikan perjalanan hidupnya Coelho sendiri loh! Hidup Coelho benar-benar dinamis dan nggak mudah karena dia memilih untuk meninggalkan keluarganya yang kaya dan memilih untuk jadi penulis (pernah jadi anggota band juga setahuku). Bahkan dia pernah masuk rumah sakit jiwa karena dia pengen jadi penulis. Abis baca The Alchemist, mungkin aku bakal baca buku-buku Coelho yang lain.

Yuk, baca bukunya. Kapan lagi merasa ditampar sama buku? :D Resapi, dan rasakan sensasinya dalam pikiran, hati, dan jiwamu!

 

PS.:

Ketika aku selesai membaca The Alchemist, aku akan membagikan kutipan-kutipan siraman hati yang kutemukan selagi aku membaca.

Jadi, resensi ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, yang telah kamu baca sekarang ini, dan bagian kedua akan diposting dalam waktu yang tidak ditentukan T-T (maaf banget belum bisa janji mau post kapan, masih menata rutinitas yang berantakan ini akibat liburan, karena awal Maret aku sudah memulai semester kedua).

Komentar

Postingan Populer