Tamparan Sampah Dalam Realita
1. Banjir Yang Semakin Parah Dari Tahun Ke Tahun
Musim penghujan tahun ini terasa “spesial”, karena Indonesia kedatangan gelombang La Nina yang menyebabkan banjir yang lebih lama dan lebih besar di beberapa daerah. Di kabupaten Lamongan, musim penghujan terjadi lebih panjang selama dua tahun terakhir. Ini menyebabkan air di sungai Bengawan Jero di Lamongan meluap dan membanjiri permukiman di dekat sungai tersebut. Akan tetapi, pada kenyataannya, semakin keras pemerintah daerah menanggulangi masalah ini setiap tahunnya, semakin parah dampak dari banjir ini setiap tahunnya. Mengapa ini terjadi?
Penulis kemudian melakukan penelitian virtual untuk mengungkap fenomena ini. Dan apakah yang penulis temukan? Masalah klise, masalah semua manusia di dunia: masalah sampah.
Kalau boleh jujur, ungkapan “buanglah sampah di tempat sampah” telah amat sering kita dengar saat kita masih sangat kecil. Para guru-guru TK tidak pernah bosan-bosannya untuk melantunkan ungkapan itu, dan bahkan memberlakukan sistem denda bagi murid yang terlupa untuk mematuhi ungkapan tersebut. Akan tetapi, mengapa orang-orang sulit sekali mematuhi peraturan paling sepele ini?
2. Pengelolaan Sampah di Masyarakat
Untuk mengetahui alasan di balik pertanyaan besar tersebut, penulis melakukan survei kecil-kecilan kepada beberapa teman terdekat penulis melalui pesan instan di WhatsApp Messenger.
Penulis memilih tujuh orang secara acak yang menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar sikap masyarakat di daerah mereka terhadap sampah dan pengelolaannya. Bisa dipastikan bahwa mereka semua pernah membuang sampah secara sembarangan, rata-rata alasan mereka melakukan itu adalah karena tidak ada tempat sampah di sekitar mereka.
Kemudian, saat penulis tanyakan mengenai pengelolaan sampah rumah tangga dalam lingkup masyarakat mereka, enam dari tujuh orang menjawab bahwa mereka mengelola sampah mereka sendiri—rata-rata dengan cara membakar sampah-sampah tersebut atau membuangnya di sebuah lubang besar (jublangan). Tak hanya itu, beberapa dari mereka juga mengaku kalau tetangga mereka ada pula yang secara terang-terangan membuang semua sampah rumah tangga mereka ke sungai dekat rumah.
Pemerintah daerah di tempat tinggal tujuh orang responden ini juga tampaknya bersikap abai dan menutup mata dalam mengatasi masalah sampah ini. Embel-embel peraturan pemerintah terkait konservasi sungai bebas sampah adalah hanya sekadar formalitas, tanpa tindakan lapangan; sebagaimana penulis kutip dari argumen salah seorang responden. Ini semakin membuka mata penulis bahwa kesadaran masyarakat—atau bahkan pemerintah—masih amat kurang.
Bila melihat data-data menyakitkan di atas, apakah masyarakat (penulis merujuk pada masyarakat di Indonesia) sekarang sangat tidak acuh terhadap lingkungan? Tidak peduli terhadap nasib bumi dalam 50 hingga 100 tahun mendatang?
Namun, tidak semuanya bersikap seperti itu.
Salah seorang responden yang bertempat tinggal di kecamatan Mojoagung, Jombang, menceritakan kepada penulis sebuah cara unik masyarakat di daerah tersebut dalam mengelola sebuah tanah luas yang dijadikan satu pembuangan sampah liar.
Mereka menjadikannya sebagai taman bermain.
Ide untuk merelokasi sebidang tanah pembuangan sampah liar menjadi taman bermain itu dicetuskan oleh warga dan tokoh masyarakat setempat yang tidak tahan dengan pemandangan gunungan sampah tersebut. Mereka kemudian mengajukan proyek relokasi pada pemerintah daerah, yang kemudian sangat menyambut proyek ini dengan sikap positif.
Taman bermain yang lebih dikenal sebagai Taman Edukasi Subontoro Barat (SBR) oleh masyarakat sekitar adalah dulunya hanya sebidang tanah pembuangan sampah tidak resmi.
Setelah taman bermain tersebut berdiri, masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar lokasi mulai membuang sampah-sampah mereka ke tempat sampah pembuangan akhir yang semestinya. Logikanya, masyarakat pasti tidak mungkin mau membuang sampah di taman bermain.
Kita harus belajar dari masyarakat Subontoro Barat, yang benar-benar menerapkan sebuah aksi nyata di lapangan. Ini merupakan gebrakan untuk perubahan besar yang diidamkan, bukan hanya sebatas berkoar-koar penuh omong kosong.
3. Mengelola Sampah Dengan Tepat Dan Efisien
Apa yang bisa Anda lakukan untuk mengelola sampah demi bumi yang lebih baik?
Pertama-tama, yang harus Anda lakukan adalah dengan TIDAK LAGI membuang sampah sembarangan. Ini adalah hal paling mendasar yang harus semua orang tahu apabila mereka ingin menyelamatkan lingkungan hidup. Memang melakukan hal kecil terlebih dahulu adalah kunci, sebelum mulai melakukan hal besar yang mengubah dunia.
Kemudian, Anda bisa mulai dengan memisahkan sampah anorganik dengan sampah organik. Terdapat banyak sekali jenis-jenis sampah yang harus Anda ketahui terlebih dahulu sebelum Anda mulai memilah dan mengelola sampah. Jepang bahkan mengategorikan sampah ke berbagai jenis sampah yang berbeda.
Lima jenis tong sampah dengan lima jenis sampah yang berbeda di Jepang
Pemilahan sampah di Jepang bisa berbeda-beda, tergantung kebijakan pemerintah dalam membagi jenis-jenis sampah. Namun, sebagai contoh, penulis akan menjelaskan empat jenis sampah menurut peraturan distrik Shinjuku, Tokyo, distrik yang paling banyak dihuni oleh warga asing:
1. Botol gelas = Bekas makanan, minuman, kosmetik, dan obat;
2. Kaleng = Wadah bekas makanan dan minuman dari alumunium atau timah;
3. Botol plastik = Bekas minuman dan bumbu masak (sake, mirin, shoyu, dsb);
4. Kaleng semprot = Bekas kaleng semprot, gas kaleng, dan batu baterai.
Kebanyakan orang yang memiliki kepedulian terhadap sampah seringkali merasa bahwa pengelolaan sampah sangatlah rumit, dan ini benar adanya. Akibatnya, orang-orang yang pada awalnya telah berniat untuk peduli dalam memilah sampah pada akhirnya membuang kepedulian mereka hanya karena pengelolaan sampah yang rumit.
Kabar baiknya, Anda tidak perlu mempelajari semuanya dari awal dan tidak perlu merasa takut waktu Anda terbuang hanya karena persoalan pemilahan sampah dan misi selamatkan bumi dari sampah; karena Anda dapat menghubungi Waste 4 Change untuk mengelola sampah Anda.
Dengan lebih dari 5.404.041 kg sampah yang terkelola, Waste 4 Change mampu menciptakan ekosistem pemilahan dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab di Indonesia. Layanan ini dapat dipergunakan untuk mengelola berbagai jenis sampah anorganik yang dihasilkan perindustrian maupun sampah rumah tangga.
Melalui program Personal Waste Management, Anda dapat memanggil langsung petugas pengelola sampah untuk mengangkut sampah anorganik langsung dari rumah Anda. Waste 4 Change sangat memastikan bahwa sampah Anda akan dikelola secara maksimal dan penuh tanggung jawab demi mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir—yang tentu ini akan menentramkan hati Anda.
Mari bersama-sama kita gerakkan ekosistem lingkungan hidup bebas sampah, demi bumi yang lebih baik untuk anak-anak di masa depan. Seperti apa kata pepatah Cina:
“Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu;
Waktu terbaik kedua adalah sekarang.”
REFERENSI
. (2021). 43 Desa di Lamongan Terendam, Tanggulangin Darurat Banjir. Diakses pada 25 Maret 2021, dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210118203825-20-595350/43-desa-di-lamongan-terendam-tanggulangin-darurat-banjir.
. (2021). Lamongan Menjadi Langganan Banjir, Dewan Nilai Pemkab Tidak Serius Berikan Solusi. Diakses pada 26 Maret 2021, dari https://www.jatimpos.co/jatim/gerbangkertosusila/4223-lamongan-menjadi-langganan-banjir-dewan-nilai-pemkab-tidak-serius-berikan-solusi.
Harnanik. (2020). Dulu Tempat Sampah, Kini RTP Produktif. Diakses pada 26 Maret 2021, dari http://kotaku.pu.go.id/view/8562/dulu-tempat-sampah-kini-rtp-produktif.
Septiani, Desi. (2020). Bagaimana Cara Membuang Sampah di Jepang?. Diakses pada 26 Maret 2021, dari https://id.quora.com/Bagaimana-cara-membuang-sampah-di-Jepang-1/answer/Desi-Septiani.
Shimogishi, M. dan Saleha, D. (2020). Yuk Kenali Tata Cara Membuang dan Mengelompokkan Sampah di Jepang!. Diakses pada 30 Maret 2021, dari https://matcha-jp.com/id/10149.






Komentar
Posting Komentar