Work Abroad: Bekerja di Jepang (日本で働く)
こんにちは!
Hai! Selamat datang. Sudah agak lama ya sejak postingan blog-ku yang terakhir? Di awal bulan ini, aku akan membawa topik yang ‘wah’, yaitu tentang Work Abroad atau bekerja di luar negeri.
Nah, dalam postingan ini, aku udah mewawancarai Kak Diki Prasetyo, yang saat ini sedang bekerja di Jepang, tepatnya di Yokohama, prefektur Kanagawa. Kepada Kak Diki, hontou ni arigatou gozaimashita! Makasih banyak udah meluangkan waktunya buat wawancara via telepon berjam-jam dan juga bersedia aku tanyain macam-macam soal Jepang \(>_<)/ Aku sangat terbantu!
Bunga-bunga Sakura bermekaran di awal musim semi di Yokohama
Langsung saja ya, untuk topik kali ini!
Semua hal di dunia ini pasti perlu proses, kan? Begitu juga dengan Kak Diki. Kak Diki ini nggak begitu saja bisa bekerja sebagai teknisi pengelasan kapal di Yokohama. Ketika 2017 setamat SMK, kak Diki sempat kerja di bengkel di Boyolali, kampung halamannya. Abis kerja di bengkel, dia merantau ke Semarang di tahun 2018, dan kerja di sebuah perusahaan manufacturing yang dinaungi oleh Sumitomo Group yang dimiliki oleh orang Jepang.
Waktu masa kontrak kerjanya kak Diki di perusahaan manufacturing habis, kak Diki ditawarin sama sensei (guru) nya buat daftar pelatihan di LPK, biar bisa bekerja di Jepang. Berbekal dengan itulah maka kak Diki mendaftar di LPK swasta.
Kata kak Diki, ada perbedaan yang mendasar antara LPK negeri dengan LPK swasta. Dari segi biaya, LPK negeri tentu lebih murah ketimbang LPK swasta. Tetapi, dari segi seleksi, peserta seleksinya bisa jauh lebih banyak daripada LPK swasta. Di LPK swasta, tes seleksi ke Jepang diselenggarakan setiap tiga atau empat kali per tahunnya.
“Waktu itu, saya tes di Solo. Yang ikut (seleksi) ada 14 peserta, dan yang lolos cuma 9 orang. Pas tanggal 28 November 2019, 9 orang—termasuk saya—ini dikirim untuk wawancara ke Jakarta sama orang Jepangnya langsung.”
Untuk pelaksanaan seleksi kelayakan calon pekerja di Jepang, terdapat empat macam tes: tes fisik, tes psikotes, tes matematika, medical checkup, dan tes wawancara. Kak Diki mengaku bahwa dia telah mengikuti seleksi ini sebanyak empat kali, setelah gagal tiga kali.
“Pendaftarnya ada sekitar 1000 orang, ini yang dari pemerintah (negeri). Sistemnya (seleksi) gugur, tergantung orangnya. Belum tahu yang lolos berapa orang. Tiap tahun memang tidak pasti sih jumlah yang lolos,”
“Tapi alhamdulillah, yang keempat ini (seleksi) saya lolos. Total ada tiga orang—termasuk saya—yang lolos. Ini merupakan rezeki yang diberikan sang pencipta pada saya,” cerita kak Diki lagi.
Setelah pengumuman seleksi wawancara, kak Diki beserta kedua temannya yang lolos siap-siap buat berangkat ke Jepang di bulan Desember 2020 kemarin. Perjalanan pesawat dari bandara Soekarno-Hatta Jakarta menuju bandara Narita Tokyo berkisar 8 jam. Sebelum itu, ketiga pekerja harus mengikuti serangkaian tes rapid untuk memenuhi protokol kesehatan di musim pandemi.
Suasana di bandara Narita, Tokyo.
Kak Diki juga mengatakan bahwa dia dan kedua pekerja lainnya hanya ‘terima beres’ untuk semua berkas yang diperlukan, seperti visa, paspor, dan lainnya.
“Iya, beneran tinggal terima beres, yang penting jaga kesehatan saja. Karena pas udah sampai di sana (Jepang) kami juga harus isolasi mandiri dulu selama dua minggu dan dilatih lagi di LPK Nagoya sekitar satu bulan,”
Berfoto di depan jinja (tempat peribadatan orang Jepang) di Nagoya.
Untuk pekerjaan sendiri, kak Diki mengaku kalau tiga bulan pertama dia bekerja, dia masih ngikut orang dan belum diberi keahlian tetap. Dia dan teman-temannya dilatih sama atasan mengenai pekerjaan terlebih dahulu sebelum diberi keahlian tetap di perusahaan tempat mereka bekerja.
Ada satu kejadian unik. Kata kak Diki, rekan-rekan Jepang-nya kaget pas mereka tahu kalau kak Diki dan teman-temannya sudah terampil dalam pekerjaan mereka, walau masih dilatih sekitar dua minggu. Umumnya, orang-orang Jepang memerlukan waktu sekitar satu tahun untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang sama dengan kak Diki dan kawan-kawan.
Ini menunjukkan kalau orang-orang Indonesia itu ulet
dalam bekerja, ya! XD (kalau niat, xixi)
Kak Diki bekerja sebagai teknisi di suatu perusahaan pengelasan kapal, dengan waktu kerja sekitar 8 jam, dan waktu istirahat 10 menit setiap jamnya.
Bermain futsal di Hiratsuka, prefektur Kanagawa.
Kak Diki menceritakan bahwa teman-teman kerjanya—yang semuanya orang Jepang, dan juga bosnya adalah orang-orang ramah. Meskipun memang ada segelintir orang yang tidak begitu suka dengan kehadiran Diki dan kedua teman-teman Indonesia-nya.
“Bos di kaisha (perusahaan) selalu mengingatkan kami untuk sholat, dan juga terlebih di masa Ramadan ini, beliau selalu menyemangati kami, ‘ganbatte’ (semangat) katanya, apalagi puasa di sini ada sekitar 14 jam,”
Waktu aku tanyakan soal rencana kak Diki untuk menetap selamanya di Jepang, kak Diki mengaku belum tahu soal itu.
“Masih belum tahu, sih. Saya masih empat bulan di sini, dan juga sudah dikontrak buat bekerja selama tiga tahun. Kalau masa kontrak saya habis, bos akan tanya apakah saya ingin memperpanjang kontrak atau tidak. Biasanya cuma nambah dua tahun (kontraknya), tapi kalau semisal mau kerja di Jepang lagi, nanti cuma ganti visa, dari visa magang ke visa tokutei ginou (pekerja keterampilan khusus).”
“Namun mungkin saya akan bekerja dulu, mengumpulkan uang, buat orangtua dan saya juga kepikiran untuk investasi tanah di Indonesia,” pungkas kak Diki.
Nah, demikian hasil wawancara aku dengan kak Diki soal pekerjaan dia di Jepang. Semoga informasi yang aku gali bareng kak Diki bisa bermanfaat buat kalian yang pengin bekerja di luar negeri, khususnya Jepang. ^^ Kalau kalian ada pertanyaan lain buat kak Diki, silakan tinggalkan komentar, ya! Nanti pasti aku sampaikan ke kak Diki :D
Sampai jumpa di postingan selanjutnya! また、ね!
BONUS:
Kak Diki ngasih aku banyak foto dan video selama dia di Jepang. Barangkali kalau kalian ingin tahu, aku upload semuanya di sini, hehe. Selamat berwisata virtual di Jepang!
Suasana Shibuya waktu kak Diki nge-bolang bareng teman-teman.
Berfoto sama teman Vietnam-nya di Yokohama station.
Pemandangan sudut kota Yokohama.
Berfoto bersama teman satu LPK Nagoya.
Foto random abis pulang kerja.
Foto random mau berangkat kerja.
Belanja bulanan.
Menonton Gundam di Gundam Factory Yokohama.
Pemandangan Yokohama di pagi hari dari lantai 4 apato-nya kak Diki.
SALJU!














Keren tulisannya mut. Btw, brp kehidupan jepang disana?:v + susah ga nyari mkanan halal
BalasHapusHai, Yuni >< Kalo kata kak Diki sih, biaya per bulannya bisa sampe 50.000 yen atau sekitar 6 jutaan rupiah. Dan lagi, nyari makanan halal lumayan sulit. Dia biasanya beli daging di supermarket yang ada logo halalnya. Intinya harus pintar-pintar milihnya, sih.
HapusEh, ralat, hehe. itu maksudnya kemasan daging yang ada logo halalnya.
HapusOh iya lupa nambahin, kak Diki ikutan program magang IM Japan dari LPK-nya.
Alhamdulillah bagus bnget🥰selmat yha anda berhasil,おめでとうございます
BalasHapusあ, �� おつかれさまでした。。
Hapus