Bekerja di Jerman (Arbeiten in Deutschland)


 

Hallo!

Hai! Selamat datang. Di postingan ini, aku ingin melanjutkan topik “Work Abroad” atau bekerja di luar negeri. Sekadar informasi saja, sepertinya ini adalah postingan terakhir yang membahas tentang “Work Abroad”, karena aku masih belum punya teman yang sedang bekerja di luar negeri selain di Jepang dan Jerman, haha.

Oh iya, sebenarnya aku sudah meriset sana-sini soal ini dari dulu, loh. Wawancaranya sudah sejak akhir bulan April kemarin. Tapi, maaf banget baru diolah dan diposting sekarang karena saat itu temanku baru beberapa minggu di Jerman, dan faktor lainnya yang nggak perlu disebutkan di sini.

Yuk, langsung saja!

Kalau di postingan kemaren aku mewawancarai Kak Diki Prasetyo yang sedang bekerja di Yokohama, Jepang, kali ini aku mewawancarai sohibku sendiri, Sry Wahyuny Sitorus, atau Kelyne, yang saat ini sedang bekerja di Jerman, tepatnya di kota Rosendahl, distrik North Rhine-Westphalia.


Kelyne bersama keluarga asuhnya ketika berlibur ke Italia. Foto disensor untuk kepentingan privasi.

Kelyne yang sekarang bekerja sebagai asisten koki di Rosendahl mengatakan bahwa perlu beberapa prosedur yang cukup memakan waktu agar bisa berangkat kerja ke Jerman. Bahkan, Kelyne sudah mempersiapkan beberapa persyaratannya sedari SMK.

“Sekolah ada kerja sama dengan pemerintah Tobasa (kabupaten Toba Samosir). Ada dua program yang ditawarkan: ausbildung sama au pair. Aku daftar yang ausbildung.

Sekolah Kelyne, SMKN 2 Balige, melakukan kerja sama dengan pemerintah kabupaten Toba Samosir melalui Program Peningkatan Kesempatan Kerja Kegiatan Kerjasama Pendidikan dan Pelatihan yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja Toba Samosir (Tobasa), yang bekerjasama dengan Yayasan Persahabatan German Indonesia untuk meningkatkan sumber daya manusia melalui kerjasama Sekolah sambil Magang di Jerman bagi putra-putri Tobasa.

 

Menikmati musim panas di Siena, Italia.

 

 “Seleksinya (ausbildung) sendiri di sekolahku ketat banget, sih. Banyak yang minat soalnya. Puji Tuhan aku lolos,” katanya. Tak lupa, Kelyne juga menambahkan bahwa program ini adalah program khusus negara dengan masa kontrak 5 tahun.

Kata Kelyne, peserta ausbildung nggak bisa langsung pergi ke Jerman, karena mereka perlu banyak persiapan tentunya, termasuk persiapan bahasa Jerman dan persiapan keterampilan pekerjaan yang mereka pilih untuk magang di Jerman selama satu tahun.

“Nanti, tes final kebahasaannya di Institut Goethe, di Surabaya. Minimal level bahasa untuk lulus tesnya harus B2, atau upper intermediate.” cerita Kelyne yang saat ini bekerja sebagai asisten koki di suatu restoran di Rosendahl.

Setelah pengumuman finalnya, Kelyne siap-siap buat berangkat ke Jerman di bulan Maret 2021. Tapi, waktu itu aku ingat kalau Kelyne sempat cerita kalau keberangkatannya agak mundur dari jadwal semula karena terkendala hasil tes COVID-19-nya yang positif. Tapi untungnya, ketika Kelyne mencoba untuk mengambil tes lagi, hasil yang keluar adalah negatif; sehingga keberangkatannya ke Jerman bisa dilakukan di bulan April 2021 kemarin. Perjalanan pesawat dari Jakarta menuju Berlin memakan waktu dengan total 16 jam, termasuk transit di Turki selama 1 jam. Lama banget, ya!

Sekadar info, untuk keperluan penting seperti biaya tiket pesawat dan pengurusan visa ditanggung sendiri oleh Kelyne. Pemerintah Jerman hanya menanggung biaya pendidikan ausbildung dan biaya hidup di Jerman.

 

Berfoto di depan bangunan abad pertengahan di San Gimignano, Italia.

 

Kelyne menceritakan bahwa dia tidak terlalu mengalami culture shock sewaktu pertama kali tiba di Jerman, tidak seperti teman-temannya dikarenakan perbedaan iklim dan etika yang lumayan kontras.

“Di sini tegur sapa sangat kental, meski kita nggak saling kenal. Terus, orang sini suka udara segar juga. Kalau tidak ada orang, semua pintu kamar harus terbuka biar ada udara masuk dan kamar nggak pengap.”

Banyak sekali peraturan yang mengatur kehidupan orang Jerman—bahkan temasuk etika saat makan. Urutan saat makan juga menganut sistem hidangan kontinental, seperti hidangan pembuka, makanan inti, dan makanan penutup.

“Makan buah dulu, terus makan makanan utama, baru penutupnya makan salad. Piringnya bahkan juga diatur: kalau makan pagi piringnya kecil, makan siang piring sedang, makan malam piring lebar.” cerita Kelyne.

Salah satu etika unik menurut Kelyne saat di meja makan adalah adab ketika makan. “Tangan kamu tuh harus tetep tegak kayak princess. Bayangin. Untung aja cuma khusus di meja makan,” tambahnya sambil tertawa.

Waktu aku tanyakan apakah selama ini dia betah tinggal di Jerman, Kelyne mengaku bahwa dia berusaha menjalani hidup dan sama sekali tidak memikirkan soal kerasan atau tidak.

“Orang-orangnya baik kok, ramah sama pengertian. Yang ngeganjel itu cuma cuaca yang dinginnya nggak ketulungan!” tutup Kelyne.

 

Nah, demikian hasil wawancara aku dengan Kelyne soal pekerjaan magang dia di Jerman. Kalau kalian ada pertanyaan lain buat Kelyne, silakan komentar ya! Nanti akan aku sampaikan ke Kelyne :D

Sampai jumpa minggu depan! Tschüss!

Komentar

Postingan Populer