Mereguk Ranum Kehidupan: Kumpulan Kutipan dalam The Alchemist (Bagian 2)

 



Hai!

Sepertinya sudah lama sekali sejak aku menulis di sini ya, haha. Sudah dua bulan lamanya sejak postingan terakhirku, jadi aku minta maaf karena sudah menghilang selama itu di sini. Bulan Juni dan Juli aku agak sibuk ujian akhir semester dan beberapa kegiatan lainnya, jadi tidak sempat (atau malas?) memikirkan konsep baru. Ah, ada beberapa rencana sih, tapi suka aku tunda-tunda eheheh (=_=”).

Oke, back to topic. Saat berkunjung ke blog setelah sekian lama, aku ingat kalau aku belum selesai meresensi buku The Alchemist, karena aku membaginya dalam dua bagian (bagian pertamanya bisa kamu baca disini). Dan, di bagian dua ini, aku ingin secara khusus membagikan beberapa (atau segudang?) kutipan mengena yang kutemukan saat aku membaca The Alchemist.

Sekadar recap yah, jadi buku The Alchemist ini berisikan tentang seorang pengembara Andalusia yang berkelana hingga ke Mesir demi mengejar harta karun seperti yang telah dibisikkan oleh bunga tidurnya. Kedengarannya klise ya, layaknya cerita petualangan biasa. Eh tapi, kalau kamu mencoba membaca, aku jamin loh, kamu akan mendapatkan beberapa insight yang memorable setelah kamu menamatkan buku ini, seperti aku haha. Kamu jadi akan lebih merenungkan apa tujuan hidupmu dan seperti apa bentuk Legenda Pribadimu.

Baiklah, nggak perlu basa-basi, berikut segepok kutipan yang insightful dari buku yang harus kamu baca sebelum kamu mati, The Alchemist, beserta interpretasinya menurut aku:

“Begini, bahwa pada saat tertentu dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada diri kita, dan hidup kita lalu dikendalikan oleh nasib. Itulah dusta terbesar di dunia.”

Semangat kita untuk melakukan sesuatu itu seringkali mengalami pasang-surut, kan? Ini sangat relatable dengan kita, karena kalau kita sedang ada di titik nol, kita cenderung pasrah dan memilih untuk menjalankan hidup ala kadarnya seperti air mengalir.

.

Kemungkinan untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan membuat hidup lebih menarik, pikirnya saat melihat lagi posisi matahari, dan mempercepat langkahnya. (Dialog batin Santiago)

Bahwa hidup tanpa mimpi atau cita-cita adalah sebuah hidup datar nan suram yang tidak memiliki makna tersendiri. Kalau kita tidak bergerak dalam artian mengejar mimpi, maka kita akan merasa ‘mati rasa’ dari dalam diri dan enggan menjalani hidup.

.

“Legenda pribadi adalah apa yang selalu ingin kita tunaikan. Setiap orang, saat mereka belia, tahu apa Legenda Pribadi mereka.

“Pada titik kehidupan mereka itulah semuanya jelas dan segalanya mungkin terjadi. Mereka tidak takut untuk bermimpi, dan mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi, dengan berlalunya waktu, suatu daya misterius mulai meyakinkan mereka bahwa mustahillah bagi mereka untuk mewujudkan Legenda Pribadi mereka.”

Waktu kita sedang duduk di bangku sekolah dasar, kita sering sekali ditanya apa cita-cita yang kita inginkan di masa depan (pasti banyak yang memilih profesi dokter, eheheh, termasuk aku). Tapi seiring bertumbuhnya kita menjadi manusia dewasa, kita semakin sadar akan realita hidup yang kejam; kita tidak yakin apakah kita mampu untuk meraih apa yang kita impikan waktu kecil, sehingga kita lebih memilih untuk menjalani hidup yang biasa-biasa saja.

.

“Siapa pun kamu, atau apa pun yang kamu lakukan, saat kau benar-benar menginginkan sesuatu, itu karena hasrat tadi bersumber di dalam jiwa alam semesta. Itulah misimu di dunia.”

Aku agak bingung dengan narasi “jiwa alam semesta”, tapi setahuku kurang lebih adalah impian yang telah kita ciptakan untuk kita wujudkan adalah simbolisme dari tujuan hidup kita di dunia.

 .

“Di masa-masa awal hidup mereka, orang-orang sudah tahu apa alasan hidup mereka,” kata lelaki tua itu, dengan nada getir. “Mungkin itu pula sebabnya mereka pun menyerah terlalu dini. Tapi begitulah kenyataannya.”

Ini sangat relevan dengan kutipan nomor tiga, anyway. Anak-anak tidaklah pantas ditanya apa cita-cita mereka saat mereka masih belum tahu kerja dunia, sementara mereka sendiri masih belum mengenal potensi diri dengan baik. Karena inilah maka banyak dari kita, termasuk aku sendiri, yang merasa kalau cita-cita kita waktu anak-anak tidak linier dengan apa yang kita impikan/jalani sekarang.

 .

Orang tua itu tampak kecewa. “Jika kau mulai dengan menjanjikan apa yang belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk bekerja guna mendapatkannya.”

Ini mirip dengan sebuah penyataan yang mengatakan kalau kita menceritakan impian kita ke orang lain, kita akan dikuasai euforia seakan-akan kita telah meraih semua impian itu, yang mengakibatkan menurunnya performa kita dalam mewujudkan impian.

 .

Jika Tuhan membimbing domba-domba sedemikian baik, dia juga akan membimbing manusia, pikirnya, dan itu membuat perasaannya lebih nyaman. Tehnya tidak terasa pahit lagi.

 .

“Aku seorang pengembara, yang mencari harta berharga,” katanya pada dirinya.

 .

“Kok, Bapak tidak pergi ke Mekkah sekarang?” tanya si bocah.

“Justru pikiran tentang Mekkah-lah yang membuatku terus hidup. Itula yang membuatku kuat menghadapi hari-hari yang sama belaka ini; yang membuatku tahan menghadapi kristal-kristal bisu di rak, dan sanggup makan siang dan makan malam di warung jelek yang itu-itu juga. Aku takut bila impianku terwujud, aku tak punya alasan lagi untuk melanjutkan hidup.”

Terkadang, impian yang sangat ingin kita wujudkan adalah impian yang tidak akan kita wujudkan di masa depan. Ini semakin membuat jelas kalau hidup itu seperti kereta api; kita yang memilih untuk membeli tiket kehidupan mana yang akan membawa kita ke stasiun akhir kita yang antah-berantah.

 .

“Jangan pernah berhenti bermimpi,” raja tua itu pernah berkata. “Ikutilah pertanda.”

Maksud pertanda ini setahuku adalah sebuah peluang yang muncul tanpa kita sadari atau mungkin yang kita remehkan keberadaannya.

 .

“Jika kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan membantumu mencapainya,” kata raja tua itu.

 .

Semakin dekat seseorang ke perwujudan Legenda Pribadinya, semakin besar Legenda Pribadinya menjadi alasan utamanya untuk hidup, pikir si bocah.

 .

“Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup kita atau pun barang-barang dan tanah kita. Tapi ketakutan ini lenyap saat kita memahami bahwa kisah hidup kita dan sejarah dunia ini ditulis oleh tangan yang sama.”

 .

“Jangan tak sabaran,” dia mengulang-ulang kepada diri sendiri. “Seperti yang dikatakan penunggang onta itu: Makanlah pada saatnya makan. Dan jalanlah terus di saat harus terus berjalan.”

 .

Bagaimana caraku menebak masa depan? Berdasarkan pertanda-pertanda masa kini. Rahasianya terletak di masa kini. Kalau kamu memperhatikan masa kini, kamu dapat memperhatikannya. Dan, bila kamu memperbaiki masa kini, apa yang datang kemudian juga akan menjadi lebih baik. Lupakanlah masa depan, dan jalanilah setiap hati menurut ajaran, percayalah bahwa Tuhan mencintai hamba-hamba-Nya.”

 .

Masa depan sudah ditulis oleh Allah, dan apa yang telah ditulis-Nya selalu untuk kebaikan manusia.

 .

Bila seseorang membuat keputusan, sebenarnya dia menyelam ke dalam arus kuat yang akan membawanya ke tempat-tempat yang tak pernah dia impikan saat pertama kali membuat keputusan itu.

 . 

“Aku ini seperti semua orang lain; aku memandang dunia menurut apa yang ingin kulihat terjadi, bukan yang sesungguhnya terjadi.”

 .

“Rahasia kebahagiaan adalah melihat semua keindahan dunia, dan tak pernah melupakan tetesan minyak di sendok.”

Maksudnya itu kalau kita sedang bahagia, jangan terlalu bahagia sekali sampai melupakan segalanya, sebelum kita sadar bahwa kita telah melewatkan sesuatu yang penting dalam hidup kita.

 .

“Yang buruk bukanlah sesuatu yang masuk ke dalam mulut manusia,” kata sang alkemis. “Yang buruk adalah yang keluar dari mulut mereka.”

 .

“Hanya ada satu cara untuk belajar,” jawab sang alkemis. “Melalui tindakan. Semua yang perlu kau ketahui telah kau pelajari melalui perjalananmu.”

Pada akhirnya, yang paling krusial di dunia setelah kita mendapatkan ilmu itu tindakan kita dalam menyikapi ilmu tersebut, ya ><

 .

“Mereka hanya mencari emas,” jawab teman perjalanannya. “Mereka mencari harta dalam Legenda Pribadi mereka, tanpa benar-benar menginginkan menjalani Legenda Pribadi itu.”

Semua itu butuh usaha, ya, bestie. Yang paling cepat mendapatkan itu biasanya yang paling cepat hilang/habis, loh.

 .

“Tuhan mencipatakan dunia supaya, melalui benda-benda yang dapat dilihat, manusia mampu memahami ajaran-ajaran rohani-Nya dan kearifan-Nya yang menakjubkan. Itulah yang kumaksud dengan tindakan.”

 .

“Memang menakutkan bahwa, dalam mengejar impianmu, kau mungkin kehilangan semua yang telah kau dapatkan.”

 .

Orang takut mengejar impian-impian mereka yang terpenting, sebab mereka merasa mereka tak berhak memperolehnya, atau bahwa mereka tak akan mampu meraihnya.”

 .

“Dan bahwa tidak ada hati yang pernah menderita saat ia mengejar mimpi-mimpinya, karena setiap detik dari pencarian itu adalah detik perjumpaan dengan Tuhan dan dengan keabadian.”

 .

“Setiap orang di bumi mempunyai harta yang menantinya,”

 .

“Hati tidak suka menderita.”

 .

“Jika aku sungguh-sungguh mencari hartaku, hari-hari akan menjadi bercahaya, karena aku tahu bahwa setiap jam adalah bagian dari mimpi yang akan kuraih.”

 .

“Bila kamu memiliki harta yang sangat bernilai di dalam dirimu, dan mencoba untuk memberitahu orang lain tentang itu, jarang ada yang percaya.”

 .

“Hanya ada satu hal yang membuat mimpi tak mungkin diraih: perasaan takut gagal.”

 .

“Mati seperti berjuta-juta orang lainnya, yang bahkan tidak tahu apakah Legenda Pribadi mereka.”

 .

“Cinta adalah terbangnya elang di atas pasirmu. Sebab baginya, kau adalah ladang hijau, tempat dia selalu kembali dari perburuannya.”

 .

“Itulah yang dikerjakan para alkemis. Mereka memperlihatkan bahwa, jika kita berusaha menjadi lebih baik daripada diri kita sekarang, semua yang ada di sekeliling kita pun menjadi lebih baik.”

 .

“Ada orang yang bilang: semua yang terjadi satu kali tidak akan terjadi lagi. Tapi semua yang terjadi dua kali pasti akan terjadi untuk ketiga kali.”

 .

Sang alkemis berkata, “Tak peduli apa yang dilakukannya, setiap orang di dunia memainkan peran sentral dalam sejarah dunia. Dan biasanya ia tidak menyadarinya.”

 .

“Di mana hartamu berada, di sana jugalah hatimu,” sang alkemis pernah berkata.

 .

Ah, sudah cukup banyak statement yang kurangkum di sini. Ending dari novel ini cukup mind-blowing, tapi aku tidak ingin merusak kejutannya untukmu, haha. Intinya, sejauh apa pun kamu melanglang buana, kamu akan kembali ke tempat asal di saat terakhir.

Sampai jumpa minggu depan!

Komentar

Postingan Populer